Rosita Rohana Wanimbo
Divisi Kerohanian dan Konseling
Dulu waktu S1, saya sangat suka memahami bagaimana uang bergerak, bagaimana risk and return bekerja, dan bagaimana perusahaan mengambil keputusan investasi. Tapi semakin dalam belajar, saya sadar satu hal: tidak peduli sehebat apa pun produk atau instrumen keuangan suatu perusahaan, tanpa strategi pemasaran yang tepat dan pemahaman terhadap perilaku konsumen digital, semuanya akan sulit berkembang.
Dunia pasca-pandemi juga mengubah cara saya melihat bisnis. UMKM yang dulu hanya andalkan warung fisik, tiba-tiba bisa ekspansi lewat TikTok Shop. Bank yang dulu mengandalkan cabang, sekarang berlomba-lomba menyempurnakan mobile banking dan strategi customer engagement. Saya merasa, kombinasi antara logika keuangan (analisis data, budgeting, valuasi) dan intuisi marketing (psikologi konsumen, brand storytelling, digital ecosystem) adalah senjata paling relevan untuk era sekarang.
Jadi, melanjutkan S2 di Marketing dan Bisnis Digital adalah cara saya menjembatani dua dunia itu. Saya ingin bisa merancang kampanye yang tidak hanya kreatif, tetapi juga financially sound.
Apa yang memotivasi saya sehari-hari? Yang paling memotivasi saya adalah rasa penasaran.
Kenapa sebuah konten viral sementara konten lain yang lebih berkualitas tenggelam?
Kenapa seseorang rela mengantre kopi mahal padahal secara rasa mirip dengan yang lebih murah?
Bagaimana algoritma media sosial membentuk keputusan belanja tanpa kita sadari?
Setiap hari, saya merasa seperti detektif yang mengamati perilaku manusia di dunia digital. Itu tidak pernah membosankan.
Apakah saya punya role model?
Jujur, saya tidak punya satu figur selebritas atau CEO besar sebagai role model tunggal. Tapi saya punya beberapa tokoh yang cara berpikirnya sangat saya kagumi yaitu
Dan Ariely (psikolog perilaku) - bukunya Predictably Irrational membuka mata saya bahwa konsumen itu tidak logis sempurna, tapi pola ketidaklogisannya bisa dipelajari.
Seth Godin (pemasar) - saya suka bagaimana dia menyederhanakan marketing menjadi soal empati dan making change happen, bukan sekadar jualan.
dan tentu saja Ibunda saya - beliau dulu berjualan kue dari rumah, tanpa HP modern, tapi hafal betul pelanggan mana yang suka kue kacang, mana yang suka kue keju.
Personal touch seperti itu yang sekarang coba saya adaptasi ke strategi customer relationship di era digital. Kata-kata motivasi yang saya pegang Ada dua kalimat yang selalu saya simpan di catatan ponsel: "Don't be the best. Be the only." – (dari berbagai sumber, saya modifikasi sendiri) Maksudnya: di dunia yang penuh dengan orang pintar, keunikan perspektif kita (perpaduan finance + marketing) adalah nilai lebih. Saya tidak perlu menjadi yang terbaik di segala hal, cukup menjadi satu-satunya yang bisa menghubungkan angka dan cerita. Dan satu dari Albert Einstein (yang agak saya modifikasi sedikit): "Everything that can be counted does not necessarily count; everything that counts cannot necessarily be counted – but in business, try to count what counts." Artinya: data itu penting, tapi hati konsumen juga penting. Jangan sampai kita sibuk menghitung like dan click tapi lupa membangun kepercayaan.
Salah satu makanan kesukaan saya adalah bakso urat dan es jeruk peras. Karena waktu S1, saya sering begadang ngerjain tugas analisis laporan keuangan. Saya dan teman-teman punya ritual: jam 10 malam, cabut dari kafe kampus, cari tukang bakso langganan. Di situ, sambil makan panas-panas, kami ngobrol ringan. Banyak ide tugas dan insight bisnis justru lahir di bangku panjang pinggir jalan. Sampai sekarang, setiap stres mikirin tugas S2, saya cari bakso. Rasanya seperti kembali ke safe place, sebuah mesin waktu bagi saya. 😊
"Jangan hanya menjadi yang terbaik, jadilah satu-satunya. Di dunia yang penuh dengan angka, jadilah orang yang mampu menceritakan kisah di baliknya. Ingatlah bahwa data itu penting, tapi hati konsumen jauh lebih berharga. - Rosita Rohana Wanimbo
.png)
